Wong Ndeso Habiskan Rp 500 Ribu di Minimarket

Pengusaha minimarket melirik pedesaan untuk mengembangkan bisnisnya.

SURABAYA POST – Masih terbukanya bisnis pasar modern di pedesaan membuat pengusaha minimarket mulai melirik wilayah tersebut untuk mengembangkan bisnisnya. Perubahan budaya masyarakat yang makin suka kepraktisan yang ditawarkan pasar modern juga membuat pertumbuhan revenue (pendapatan) pasar modern semakin mentereng.

“Memang sekarang harus diakui ada perubahan kultur di masyarakat Indonesia yang lebih suka berbelanja di pasar modern daripada pasar tradisional atau warung,” kata Ketua Dewan Pimpinan Daerah  Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia Jatim, Abraham Ibnu, Kamis 3 Maret 2011..

Hal ini juga yang terungkap dalam survei Nielsen Indonesia yang menyebut belanja rumah tangga masyarakat perdesaan di minimarket selama 2010 naik 36% dari segi kunjungan. Sementara itu, total nilai belanja juga meningkat 87% dibanding kondisi pada 2007.
Ibnu menambahkan, makin padatnya persaingan antar ritel modern di perkotaan membuat pengusaha mulai mengalihkan fokus usahanya ke daerah. Meski demikian, ia mengatakan tidak mudah untuk mendirikan bisnis ritel modern di pedesaan.  “Harus ada studi mendalam tentang kelayakan usaha di daerah,” tuturnya.

Hal-hal yang menjadi pertimbangan adalah jumlah penduduk di suatu daerah, pendapatan per kapita penduduk daerah tersebut dan standing money atau uang yang dibelanjakan di daerah tersebut.

Jika ketiga hal tersebut memenuhi persyaratan, bukan tidak mungkin pengusaha akan segera masuk ke wilayah tersebut.  “Persoalannya hanya siapa yang mau babat alas, pasti akan diikuti pengusaha lain,” kata Ibnu.

Sosiolog Universitas Airlangga (Unair) Karnaji menyatakan kecenderungan masyarakat desa untuk memilih berbelanja di minimarket disebabkan beberapa hal. Faktor utama yang membuat masyarakat desa memilih berbelanja ke minimarket dikarenakan penetrasi minimarket yang mulai menyentuh pelosok desa.

“Saya melihat, ini dikarenakan minimarket sudah sampai pada pelosok desa. Sehingga masyarakat tergoda untuk membelanjakan uangnya di minimarket,” ujarnya.

Faktor lainnya, minimarket memasang harga yang sudah pasti (dibandrol), sehingga memudahkan masyarakat dalam berbelanja. Ini membuat proses tawar-menawar hilang sehingga memudahkan masyarakat desa ketika berbelanja. Disisi lain, harga yang pasti membuat masyarakat mengetahui jumlah uang yang akan dibelanjakannya.

“Dengan harga yang pasti, masyarakat bisa berbelanja dengan mudah. Inilah tawaran yang diberikan oleh minimarket,” ujarnya.

Faktor selanjutnya, kata dia, adalah masyarakat bisa memilih dengan lebih leluasa karena sifat minimarket adalah swalayan. Masyarakat bisa memilih barang yang akan dibelinya sekaligus melihat-lihat barang yang dipajang di minimarket. Artinya masyarakat desa bisa melihat barang lain yang kemungkinan tidak dibelinya pada waktu itu. Kesempatan melihat tersebut memungkinkan masyarakat desa untuk membelinya pada suatu waktu tertentu.

“Karena bisa memilih dan bisa melihat-lihat, sehingga mereka ini tidak harus membeli. Tetapi kemungkinan dalam kesempatan lain akan membelinya,” ujarnya.

Sebelumnya, Survei Nielsen menyebutkan masyarakat pedesaan perlahan mulai mengalihkan kebiasaan belanja dari pasar tradisional ke sejumlah minimarket yang kini memang banyak menjamur hingga ke pelosok daerah.

“Kunjungan ke pasar modern rumah tangga perdesaan paling banyak disumbangkan minimarket,” kata Direktur Consumer Panel Service Nielsen Indonesia, Lim Soon Lee, dalam keterangan pers Perilaku Belanja Rumah Tangga.

Hasil survei Nielsen menunjukkan rata-rata masyarakat perdesaan mengunjungi minimarket sebanyak 11 kunjungan per bulan atau naik 36%. Rata-rata belanja yang dikeluarkan tercatat sebesar Rp 4.000 per kunjungan.

Total nilai belanja juga meningkat 87% dibanding 2007. Tahun 2007, satu rumah tangga rata-rata masih membelanjakan uang sebesar Rp 252.657 setahun, sedangkan di 2010 naik menjadi Rp 472.892 setahun. Sebagai informasi, survei Nielsen tersebut menggunakan panel data 4.550 rumah tangga yang mencakup 25 juta jiwa di lima kota besar dan daerah perdesaan di Pulau Jawa.

Kendati banyak berbelanja di minimarket, Nielsen masih menganggap perdagangan tradisional seperti pasar dan toko memainkan peran utama belanja barang konsumen yang cepat perputarannya (fast moving consumer goods/FMCG).

Kondisi itu terlihat dari hasil survei yang menunjukkan 81 persen rumah tangga perdesaan masih bertransaksi melalui pasar atau toko. “Biasanya warung dan toko berada dekat tempat tinggal, sehingga tak perlu banyak usaha untuk mencapainya. Dan, barang yang dibeli umumnya kebutuhan saat itu,” ujar Soon.

Kondisi itu berbeda dengan masyarakat di perkotaan yang transaksi belanja rumah tangga dilakukan melalui berbagai cara. Hasil survei menunjukkan masyarakat perkotaan yang masih memilih berbelanja di pasar tradisional menguasai 52 persen rumah tangga. Sementara itu, sisanya atau 48 persen memilih berbelanja di pasar moderen seperti minimarket, hypermarket, dan supermarket.

Soon memperkirakan kondisi tersebut tidak terlalu berubah tahun ini. Sebab, dalam dua bulan pertama 2011, tren pertumbuhan menunjukkan kondisi yang sama dengan 2010.

Sumber : http://jatim.vivanews.com/news/read/207547-wong-ndeso-habiskan-rp-500-ribu-di-minimarket

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: