Tahu Ledok, Berbeda dengan Daerah Lain

KAWASAN Ledok Kulon di Kecamatan Bojonegoro, selain dikenal sebagai daerah banjir luapan Sungai Bengawan Solo, juga adalah kawasan industri rumah tangga kuliner. Tepatnya tahu, makanan cepat saji ini menjadi salah satu bagian dari desah nafas warga Ledok Kulon. Hampir sebagian besar warga di sana, secara turun temurun sejak dahulu telah menekuni home industry pembuatan tahu.

Seperti halnya yang dilakukan oleh Sukur (51), warga Kelurahan Ledok Kulon yang telah 14 tahun lebih menekuni usaha pembuatan tahu. Pagi ini, seperti biasanya, Sukur bersama beberapa karyawannya menyiapkan alat-alat pembuatan tahu yang dilakukan di belakang rumah tinggalnya. Menurut Sukur, salah satu pakem warga setempat dalam membuat tahu adalah tidak boleh menggunakan bahan pengawet apapun.

“Jadi tahu ledok ini relatif lebih organik dibanding tahu lain, selain itu berbeda dengan tahu daerah lain yang terlalu banya menggunakan vetsin sebagai penyedapnya,” terang Sukur. Hal itu, menurut Sukur, membuat tahu khas Ledok ini mempunyai rasa dan kekenyalan yang berbeda dibanding tahu lain. Selain bahan baku yang aman, warga Ledok pun masih mempertahankan tradisi penggunaan kayu bakar.

“Semua proses pembuatannya manual, pakai alat yang sama dengan sejak pertama kali saya menekuni usaha ini,” terangnya. Satu-satunya yang telah mengalami perubahan adalah mengenai pengelolaan limbahnya, menyusul kawasan yang berada di tepian bantaran Sungai Bengawan Solo tersebut semakin padat jumlah penduduknya.

Bahkan cara distribusi penjualan hasil produksinya pun masih belum mengalami perubahan, yakni ke pasar tradisional yang ada di Bojonegoro dan Tuban. Biasanya tahu-tahu itu dibawa sendiri ke pasar, atau terkadang ada pedagang pasar yang datang. Sukur mengaku bisa menghabiskan 300 Kg kedelai untuk membuat tahu, ia mengerjakan pembuatan tahu secara tradisional itu bersama 6 orang karyawannya yang merupakan warga setempat.

Kemampuan produksi setiap pengusaha tradisonal Tahu Ledok di kawasan tersebut berbeda-beda, Sukur sendiri menjelaskan bahwa di sekitar tempat tinggalnya saja terdapat 100 rumah industri serupa. “Jumlah produksinya berbeda-beda, tergantung modal yang dipunyai,” terang Sukur. Selama ini, Sukur mengaku belum pernah memanfaatkan bantuan dari pemerintah setempat.

Selain dijual sebagai bahan makanan setengah jadi, terdapat jenis produk lain yang juga dapat dimanfaatkan oleh pengusaha tahu Ledok tersebut, diantaranya adalah ampas tahu untuk makanan ternak. “Sering juga ada yang datang untuk membeli ampas tahu,” terang Sukur. Dan tentunya adalah tahu matang, yang menjadi favorit di tempat tersebut adalah Bola Tahu, yakni tahu goreng yang berbentuk bola-bola.

“Kami sebenarnya juga berkeinginan untuk menjadikan tahu Ledok ini sebagai salah satu oleh-oleh khas Bojonegoro,” terang pengusaha lainnya. Namun keinginan tersebut lagi-lagi kandas karena minimnya modal yang mereka punyai, yakni untuk membuat kemasan ataupun show room dan outlet khusus Tahu Ledok. (Kominfo2/JK/Miftahul)

Sumber : http://www.bojonegorokab.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=962:tahu-ledok-berbeda-dengan-daerah-lain

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: