Bojonegoro Peduli Merapi Telah Serahkan Seluruh Logistik ke Pengungsi

SELURUH hasil penggalangan dana bantuan yang terkumpul di Posko Bojonegoro Peduli Merapi, telah selesai didistribusikan langsung kepada para pengungsi. Bantuan itu dikirim bersama 15 anggota PWBCARE yang juga diikuti oleh para relawan.

Bantuan

Bantuan

“Ada tambahan relawan dari Akademi Kesehatan Rajekwesi, siswa SMK Nasional Temayang, BSMI Bojonegoro, dan anggota Senkom Polres Bojonegoro,” terang Sutriyono selaku koordinator PWBCARE.

Bantuan tersebut didistribusikan ke beberapa titik pengungsian yang tersebar di Kabupaten Magelang dan Sleman. Diantaranya adalah di gedung SMA Van Lith, Gedung Kepastoran Magelang, Pondok Muhammadiyah di Muntilan, Barak Pengungsian di Desa Jumoyo, Kecamatan Tempel Magelang, Warga Desa di Sleman, Posko Masjid Agung Sleman, dan di gedung SDN Tamanagung Muntilan.

Pendistribusian itu sendiri dibagi dalam tiga tahap, tahap pertama adalah berdasarkan panduan Bulan Sabit Merah Indonesia, tahap yang kedua berdasarkan arahan dari Senkom setempat dan yang terakhir berdasarkan pemetaan dan koordinasi PWBCARE. Di titik pertama, yakni di barak pengungsian yang ada di Desa Jumoyo, Kecamatan Tempel, truk bantuan melakukan droping berupa air bersih dan pembalut wanita.

“Karena dititik ini sudah ada dapur umum yang sangat besar. Jadi menurut hasil koordinasi, maka diputuskan kita mengutamakan air minum dan pembalut wanita,” tambahnya. Dari titik pertama, rombongan kemudian bergeser ke SDN Tamanagung, di Kecamatan Muntilan Magelang.

Titik kedua ini dipilih berdasarkan informasi dan arahan dari relawan BSMI, yakni lokasi yang masuk melalui jalan sempit dan merupakan tempat pengungsian baru. Di gedung sekolah tersebut, terdapat ratusan anak-anak dan wanita tua, relawan segera melakukan dropping berupa air minum, alat mandi, pembalt wanita, pakaian anak, susu, obat tetes mata dan ribuan telor asin.

“Kami membagikannya secara manual, yakni langsung ke pengungsi,” terangnya. Sempat melintasi hujan debu di Jalan Utama, perjalanan kemdian dilanjutkan ke Masjid Agung Sleman. Di lokasi kedua ini terdapat ribuan pengungsi dan masih terus bertambah.

“Disini kita maksimalkan air bersih,” ujarnya. Dari titik ketiga ini, BSMI melepas rombongan untuk mengikuti arahan Senkom setempat. Selanjutnya, rombongan mengikuti arahan Senkom setempat untuk menuju titik pengungsi yang terbilang cukup dekat dengan puncak Gunung Merapi, yakni sekitar 17 Km. Saat sampai di lokasi tersebut, bersamaan dengan semburan awan panas di puncak merapi.

“Terlihat jelas dari lokasi tersebut, kepulan awan panas. Untung cuaca cukup panas, sehingga menurut informasi awan panas dan abu akan membumbung tinggi,” kata Agung, salah satu relawan yang ikut dalam rombongan. Di titik ini, distribusi bantuan tetap di fokuskan pada air mineral.

Selanjutnya perjalanan berlanjut ke barak pengungsian di Muntilan, yakni di gedung SMA Van Lith, Gedung Kepastoran Magelang dan di Pondok Pesantren Muhammadiyah Magelang. Di ketiga titik itu terdapat ribaun pengungsi, bahkan secara visual, relawan melihat masih banyak pengungsi berdatangan.

“Sebelumnya ada ribuan pengungsi di lapangan, namun setelah diguyur hujan abu vulkanik, barak tersebut hancur. Baru hari ini kami mengatur pembagian dan penempatan pengungsiannya ke dalam gedung,” terang salah satu petgas di tempat itu.

“Karena jumlah pengungsi mencapai belasan ribu, kami dropping seluruh sisa logistik. Termasuk pakaian anak-anak dan jaket untuk pengungsi, sarung, pembalut, air mineral, susu, peralatan mandi, obat-obatan, dan beras,” terang Suharsono, selaku keta rombongan.

Setelah menyelesaikan seluruh distribusi bantuan, rombongan kemudian meluncur ke Candi Borobudur. Di kantor Candi Borobudur tersebut, rombongan kemudian meminta ijin pada pengelola untuk numpang istirahat. “Kami menggelar tikar, dan memasak kopi sendiri di tempat itu,” tambahnya.

Di tempat tersebut, sempat digelar diskusi kecil dengan para relawan, karena kebetulan sebagian relawan dari seluruh Indonesia juga menempati tempat tersebut untuk melepas lelah. “Kami memang tidak menggunakan sama sekali dana bantuan dari para relawan, itulah sebabnya kami memenuhi sendiri kebutuhan relawan,” tambahnya.

Ditanya soal kebutuhan makan para relawan, Suharsono menerangkan bahwa para relawan selama perjalanannya ke lokasi bencana hanya makan satu kali. “Satu kali kami beli nasi bungkus, itupun yang membelikan adalah petgas Senkom. Kalau selama perjalanan, kami kebetulan bertemu dengan rombongan wisata di Yogya yang akhirnya berbaik hati untuk menjamu kami makan saat datang dan hendak pulang,” terangnya.

Sumber : http://jawakini.net/berita/NOV%202010/071110%20MERAPI.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: