Sri Kuntari, Pemilik PO Margo Djojo Itu Pergi Selamanya

Dinilai Sosok Pekerja Keras dan Hargai Perbedaan

Setelah lebih empat bulan berjuang melawan penyakit komplikasi, Sri Kuntari, pemilik PO Margo Djojo, tutup usia Minggu (19/9) lalu. Banyak kenangan yang ditinggalkan wanita berusia 74 tahun itu kepada keluarganya.

NITIS SAHPENI, Bojonegoro

SEDERETAN mobil diparkir di sepanjang pinggir Jalan Untung Suropati. Beberapa rangkaian bunga ucapan tanda berduka cita berada di atas trotoar dan halaman sebuah rumah berwarna cokelat. Puluhan orang berseragam dinas cokelat, tanda pegawai Pemkab Bojonegoro, memenuhi kursi dan teras rumah tersebut.

Seorang lelaki duduk di kursi dan menyalami tamu-tamu yang semakin banyak berdatangan. Memasuki teras rumah, tamu-tamu berbaju PNS menyalami seorang lelaki yang berpeci dan berpakaian serba hitam. Beberapa pelayat di ruang tamu dengan khidmat berdoa di samping sebuah peti jenazah yang didekatnya terdapat foto sesosok wanita.

”Monggo, terima kasih, mohon doa untuk ibu,” kata perempuan berpakaian dan berjilbab putih sambil menyalami tamu.

Dia adalah Etty Prabawati, salah seorang anak Sri Kuntari, pemilik PO Margo Djojo, yang meninggal dunia Minggu sore lalu. ”Ibu meninggal setelah beberapa bulan dirawat di rumah sakit (RS Husada Utama) di Surabaya. Hari ini (kemarin, Red) pukul 13.00 akan dimakamkan,” kata anak kelima Sri Kuntari kepada wartawan koran ini.

Sri Kuntari lama menderita penyakit komplikasi diabetes, gagal jantung, dan gagal ginjal. Bahkan, selama empat bulan dia menggunakan berbagai alat bantu untuk bisa bertahan hidup. Dia juga harus cuci darah karena menderita gagal ginjal. Meski sakit parah, Sri Kuntari tetap menunjukkan perjuangan dan keinginan untuk sembuh.

Sambil duduk dan sesekali menerima ucapan bela sungkawa dari pelayat yang terus berdatangan, Etty menceritakan sosok ibunya. Di mata dia, Sri Kuntari adalah sosok pekerja keras. Hingga usia lanjut, dia tetap masih ingin aktif dan tidak bisa berhenti bekerja untuk menghasilkan karya. Almarhumah juga dianggap sebagai orang yang selalu menjalin hubungan baik dengan semua orang yang ada di sekitarnya.

”Yang menjadi panutan adalah semangat beliau yang sangat tinggi semasa hidup, ulet, dan sangat demokratis,” tutur ibu dua anak ini.

Etty menambahkan, sikap ulet dan kerja keras ibunya ditunjukkan dengan bisnis transportasi Margo Djojo bersama suaminya (alm) Prayitno pada sekitar 1970-an. Usaha itu dirintis dari bawah hingga kini menjadi PO yang cukup besar.

Sementara di mata Djoko Prasetyo, anak sulung Sri Kuntari, ibunya adalah sosok yang menjadi panutan. Dia merasa kehilangan yang sangat besar atas kepergian ibunya untuk selamanya tersebut. ”Beliau mengajarkan kepada semua anaknya tentang kesederhanaan dan kerja keras,” kata dia sambil matanya berkaca-kaca.

Pria yang juga kepala PD Pasar Bojonegoro ini mendapat pelajaran tentang pentingnya menghargai perbedaan dari ibunya. Sri Kuntari di mata keluarga merupakan sosok yang demokratis dan penuh rasa menghargai satu sama lain.

Hal itu dibuktikan dengan perbedaan keyakinan agama yang dianut masing-masing anak. Meski berbeda keyakinan, antaranggota keluarga bisa menjaga kerukunan. Usaha dan kerja keras Sri Kuntari berhasil mengantarkan seluruh anaknya menjadi orang yang berhasil.

”Meskipun ada perbedaan, namun dengan kasih sayangnya ibu, menunjukkan bahwa semua keluarga bisa saling memahami dan rukun. Karena kata beliau, perbedaan itu lumrah,” ujarnya.

Sri Kuntari pergi untuk selamanya dengan meninggalkan tujuh anak, 19 cucu dan seorang cicit. (*/yan)

Sumber : http://www.jawapos.com/radar/index.php?act=detail&rid=180258

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: