Puluhan Desa Terendam Banjir

BOJONEGORO – Luberan air Bengawan Solo mulai menggenangi wilayah-wilayah di Kabupaten Bojonegoro, Lamongan, dan Blora (Jawa Tengah). Hingga berita ini diturunkan, di Bojonegoro, sekitar 49 desa yang tersebar di 14 kecamatan mulai kemarin (1/2) mulai terendam air dari luapan Bengawan Solo. Sementara di Blora, 14 desa di tiga kecamatan mulai tergenang air.

Hingga pukul 18.00 kemarin, ketinggian air pada papan duga di Taman Bengawan Solo (TBS), Jalan Jaksa Agung Suprapto Bojonegoro, terus merangkak naik hingga mencapai 14,60 pheilschale. Sedangkan di papan duga Karangnongko, Kecamatan Ngraho di titik 29,52. Dan di Dungus, Ngawi, papan duga menujukkan angka 8,50. “Ketinggian air di Bojonegoro ini bisa bertahan hingga besok (hari ini, Red) atau sampai dua hari lagi,” kata

Kepala Balai Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Bengawan Solo di Bojonegoro Pudjo Buntoro, kemarin.

Menurut dia, ketinggian air di Bojonegoro bisa bertahan atau bahkan bisa bertambah lebih besar lagi kalau di daerah hulu ( Solo, Sragen, Wonogiri, Ngawi dan Madiun) kemarin turun hujan lagi.

Namun, dia mengungkapkan, banjir di wilayah Solo, Jawa Tengah dan sekitarnya, termasuk Sragen, yang mendapat luapan air Bengawan Solo�kemarin mulai surut dan airnya mulai masuk wilayah Bojonegoro. Sehingga, ketinggian permukaan air Bengawan Solo akan bertahan di kisaran siaga II. “Kemungkinan banjir di Bojonegoro dan sekitarnya tak separah banjir yang terjadi pada musim hujan setahun lalu,” prediksinya.

Untuk mengantisipasi banjir, kemarin pihaknya memenuhi permintaan sak dari warga Kecamatan Kanor sak sebanyak 5 ribu. Bahkan, warga Kecamatan Baureno juga diberi 2 ribu sak. “Saat ini persediaan kami tinggal 5 ribu dan kami sudah mengajukan permintaan ke balai Besar bengawan solo,” ujarnya.

Sementara itu, ketinggian air luapan Bengawan Solo mulai memasuki permukiman warga dengan ketinggian berkisar setengah meter. Selain itu, banjir juga meredam ratusan hektare areal pertanian di sepanjang Daerah Aliran (DAS). Di antaranya, di Desa Ngulanan, Kecamatan Dander. Bahkan, di desa ini puluhan warga mulai membuat tenda pengungsian untuk ternaknya. “Bagi kami disini ternak dulu yang diungsikan, kalau banjir terus meninggi baru orangnya yang mengungsi,” kata Sakiman, 45, warga Desa Ngablak, Kecamatan Dander.

Pemkab Bojonegoro sendiri memberlakukan siaga II menghadapi banjir kali ini. Kemarin seluruh pejabat pemkab, dinas, serta instansi terkait dikumpulkan Bupati Bojonegoro Suyoto di pemkab setempat untuk rapat koordinasi. Bupati minta seluruh (27) camat menyosialisasikan keadaan kemungkinan datangnya banjir Bengawan Solo sekaligus minta masyarakat tetap tenang. Setelah itu, Suyoto memantau genangan air banjir yang mulai memasuki pekarangan rumah warga di Desa Kuncen, Kecamatan Padangan.

Bahkan, kemarin Suyoto dengan menggunakan perahu mendatangi lokasi bencana.

Lamongan Siaga III

Ketinggian air Bengawan Solo di wilayah Lamongan telah berstatus siaga III, terutama di Kecamatan Laren yang tahun lalu tersapu banjir akibat jebolnya tangkis di Widang, Tuban. “Ketinggian air bengawan terus naik,” ungkap Kabid Operasi dan Pemeliharaan Dinas PU Pengairan Lamongan, Suro Adiwarno, kemarin.

Menurut dia, status siaga III terjadi pada lokasi pemantauan di Laren. Hingga pukul 15.00 kemarin ketinggian air Bengawan Solo di tempat itu mencapai 5,21. Sedangkan status siaga III pada posisi 5,04. “Di Laren pada pukul 06.00 masih 4,85 lalu pada pukul 12.00 naik menjadi 5,16. Sehingga status siaga III terjadi sekitar pukul 11.00,” ungkapnya.

Sementara, ungkap Suro, untuk tiga lokasi pengamatan lainnya masih bertatus siaga II. Tiga lokasi pengamatan itu adalah Babat pada pukul 06.00 ketinggiannya 7, 03 kemudian menjadi 7,33 pada 12.00 dan naik lagi menjadi 7,37 pada 15.00. “Siaga III di Babat bila mencapai 7,50 ke atas,” ungkapnya.

Selanjutnya pengamatan di Karanggeneng pada pukul 06.00 setinggi 3,25 lalu menjadi 3,79 pada 12.00 dan 3,84 pada 15.00. Siaga III di Karanggeneng bila ketinggian air 4,00. Sedangkan pengamatan Kuro Karangbinangun pada pukul 06.00 masih 1,40, lalu menjadi 1,69 pada pukul 12.00 dan 1,68 pukul 15.00. “Saat ini kondisi laut di muara Bengawan Solo masih surut sehingga air bengawan cepat dibuang ke laut. Tapi kalau saat air laut pasang dan ketinggian air bengawan terus naik, tentu airnya akan sulit dibuang ke laut sehingga bisa meluap,” terangnya.

Untuk mengatasi soal itu, ungkap dia, pintu air seperti Babat Barrage dan flootway (sudetan bengawan Solo) telah dibuka total agar air bengawan tidak terhalang dan bisa melimpah secepatnya ke laut. “Kondisi tangkis Bengawan Solo di Lamongan aman. Hanya di Desa Bogobabatan dan tangkis di Widang yang terus dipantau,” ungkapnya.

Permukiman Warga Terendam

Sungai Bengawan Solo di Blora mulai meluap. Akibatnya, warga di bantaran sungai mulai ketar-ketir. Sebab, sebagian permukiman mulai terendam air. Di Blora, sungai itu melewati tiga kecamatan, Kradenan, Kedungtuban dan Cepu. Hanya, kemarin baru Cepu

yang terendam. “Tadi pagi (kemarin, Red) belum sampai pukul 10.30 belum. Tapi kini sudah naik,” ujar Masitah,40, warga Kelurahan Balun, Cepu kemarin.

Pantauan koran ini, daerah yang selama ini menjadi langganan banjir, seperti Balun mulai terendam. Menurut warga, luapan sungai mulai terlihat sejak Sabtu (31/1) malam. Sabtu sorenya, air bengawan terus naik. Ketinggian air tak terkendali, sehingga daratan mulai tersetuh. Namun, pagi kemarin ketinggian air terus naik, sehingga air luapan mulai masuk perkampungan warga.

Di kawasan Kebun Kepala, Balun, ketinggian air yang menggenangi rumah warga 50 centimeter lebih. Itu kondisi di dalam rumah. Sedangkan di sekitar permukiman dan di tanah lapangan lingkungan setempat, ketinggian air sekitar satu meter.

Di jalan raya yang menghubungkan antar lingkungan ke Nggendeng, Balun, juga mulai terendam. Siang kemarin ketinggian air di jalan raya ini sekitar 20 centimeter. ”Kalau di di dalam rumah yang sudah lumayan,” ujar Kasni, 50, warga setempat.

Karena rumahnya mulai terendam, warga mulai mengemasi barang-barangnya dan siap mengungsi. Bahkan, sebagian warga sudah mengusung barang-barangnya di tempat yang lebih aman. Di kawasan Balun Nggendeng, warga menggunakan kawasan di sepanjang rel KA di dekat stasiun Cepu untuk mengungsi. Sejumlah warga kemarin terlihat mulai membuat tenda di dekat rel untuk persiapan pengungsian.

Camat Cepu Slamet Wiryanto membenarkan sebagian wilayah Cepu mulai terendam. Namun, dia hanya sebagian kecil. ”Meski demikian kami meminta warga untuk tetap waspada,” katanya. (ade/feb/ono)

sumber : http://www.jawapos.co.id/ (Radar Bojonegoro)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: